Perkumpulan Panahan Tradisional KPBI Resmi Berdiri di Kaltim

Memanggul peralatan memanah di pundaknya, puluhan pemanah berpakaian tradisional berbagai daerah di Indonesia berkumpul dalam peresmian Perkumpulan Olahraga Panahan Berkuda Indonesia - KPBI Borneo Kaltim, Sabtu, (22/4) di Masjid Imam Ahmad, Jalan Swadaya, Indrakila Balikpapan Utara.

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Ketua Umum Komunitas Panahan Berkuda Indonesia (KPBI) Harsum David Halim dan Ketua Pengawas Irvan Pani Mappaseng.

Acara dibuka dengan sambutan dari pengurus nasional dan daerah, setelah itu peserta diajak untuk mengikuti coaching clinic guna memperdalam berbagai pengetahuan, keterampilan serta filosofi mengenai olahraga panahan tradisional yang dibawakan langsung oleh Irvan Pani Mappaseng.

Dalam pemaparan awal tentang keorganisasian, Irvan menjelaskan bahwa organisasi panahan berkuda skala nasional yang berdiri sejak 2014 silam ini, telah mengalami perkembangan signifikan beberapa tahun ini. Awalnya hanya sekedar hobi panahan kemudian berlanjut dengan mengoleksi alat panah tradisional. Semakin lama mereka fokus pendalaman ilmu serta pelatihan panah tradisional Asia dengan busur horsebow/busur untuk berkuda.

Seiring perkembangan informasi dan ketersediaan alat, kini sudah ada 12 daerah dengan lebih dari 400 anggota yang bergabung di KPBI.

Walaupun masih tergolong muda, tetapi kiprah dan prestasinya mengagumkan. Tahun 2016, mereka berhasil menyabet juara tiga di event panahan tradisional di Putrajaya Malaysia. Beberapa bulan kemudian, mereka mendukung penyelenggaraan pertandingan memanah kelas horsebow pertama di Indonesia di Darut Tauhid Bandung. Hingga akhirnya resmi terdaftar di Kemenkumham tahun 2016.

Irvan juga menjelaskan, dibalik olahraga panahan tradisional ini tersimpan banyak aspek spriritual, fisik termasuk makna persaudaraan sesama umat didalamnya. Ia memberikan contoh bagaimana seorang pemanah itu tidak bisa bekerja sendiri-sendiri dan harus bekerja sama dan saling membantu sebagai keluarga bagaimanpun kondisinya.

"Panah boleh patah, kuda boleh lelah, tapi persaudaraan jangan punah," ujar Irvan.

Di kesempatan terpisah, Ketua Umum KPBI, Harsum menjelaskan bahwa olahraga ini juga membantu mencetak generasi yang tangkas, berbudi luhur, cerdas serta berjiwa kesatria. Hal ini menurutnya berdasarkan penggalian dari berbagai literatur dan makna yang terkandung dalam setiap gerakan memanah.

Olahraga ini, kata Harsum diajarkan adab, ahlak terhadap guru, sesama rekan dan persoalan keamanan yang diajarkan Rasulullah. Ia mencontohkan bagaimana membidik sebuah sasaran membutuhkan kekuatan fisik karena beban tarikan busur panah dapat mencapai 35 kg.

"Dibutuhkan kesabaran, kearifan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan dalam setiap tarikan anak panah yang dilesatkan," kata Harsum.

Ia menambahkan olahraga panahan juga berguna menggali tradisi Islam dan nusantara. Terkait panahan tradisional yang hampir punah karena dilupakan bangsa sendiri. Ia menganjurkan setiap anggota pemanah tradisional bisa lebih menggali makna tradisi di balik busur tradisional, dan tak sungkan memakai pakaian tradisional di tiap event panahan tradisional.

"Kita harus bangga dengan tradisi kita," kata Harsum.

Saleh, Ketua Perkumpulan Olahraga Panahan Berkuda Indonesia - Borneo Kaltim juga menyambut baik peresmian kali ini, ia berharap agar olahraga ini mampu terus berkembang di Kaltim dan setiap anggota yang bergabung mampu mengamalkan makna filosofis yang dalam dari olahraga ini.

Sebagai informasi, di Kaltim sudah ada perkumpulan memanah di sembilan daerah yang menginduk pada organisasi ini. (*)

sumber: tribun kaltim

KPBI Borneo Kalimantan Timur