KPBI to FMTA 2018 – Episode VIII - Penutup

Wow. Terlambat satu pekan lebih. Tapi susananya tetap mengena hingga sekarang. Saya akan gabung tatar Jawa. KPBI Jakarta, Jawa Barat, Jogja, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Ada wakil Indonesia paling gaek di group ini. Uda Johnny DaQu. Ia wakil Daqu Faris School (DFS). Belum satu tahun memanah tapi mampu ada di peringkat 37 dari 174 pemanah dari 15 negara untuk kategori statik. DFS salah satu mitra KPBI sebagai pusat pendidikan dan latihan seni memanah tradisional dan Horseback Archery.

Jakarta juga diwakili Alan Pratama dan Dimas Ibnu Mahfudz. Kalau bisik-bisik antar pemanah di sana, ini wajahnya tampan macam bintang film. Lalu geser ke Jawa Barat Ada Hadi Supriatna Sutan Bareno. Belum satu tahun memanah tapi Ada di peringkat 51 dari 174 peserta. Harus banyak berlatih untuk bisa sejajar dengan para mastah panahan tradisional dunia yg sudah 10 tahun lebih memanah. Tekat Hadi semangat.

Melipir ke JOGLO kita dibikin kaget untuk tampilan busana kali ini. Joglo mengenakan busana yang merajut pada riset busana Pangeran Diponegoro. Aura Kang Roy, Bigar Muhammad Bestedo dan Mas Bambang Asb mendadak tampak lebih wibawa dan setenang Gunung Merbabu yang kokoh.

Dua pemanah menggunakan Busur buatan sendiri. Kang Roy dengan sentuhan Midas pada Busur buatannya dapat peringkat yang tidak mengecewakan. Peringkat 36 dari 15 negara dg 174 pemanah kategori statik dan peringkat 9 dari 62 pemanah kategori antar negara dari 14 negara kategori dynamik.

Berujung di Jawa Timur. Arek-arek Suroboyo tak lupa dengan BrainQu. Biar sehat dan cerdas selalu, para wakil Indonesia disuplai brainqu agar fit di tengah cuaca hujan dan panas menyengat di lapangan. Mas Fuji Setiawan setia bagi vitamin.

KPBI Jawa Timur diwakili Fuji dan Donny Hernawan. Arek Jawa Timur ini juga tampil maksimal. Mas Dony menempati peringkat 26 dari 174 pemanah 15 negara. Para wakil Jatim kali pertama juga tampil di turnamen internasional.

Secara keseluruhan wakil Indonesia sudah mencapai nilai yang cukup baik. Para pemula yang akan terus jadi pembelajar. Meski belum berada di Lima besar, semoga pada event internasional berikutnya posisi terus membaik.

Sebagaimana disampaikan para pemanah dari negara-negara lain, kehadiran di lapangan bukan sekadar berebut panggung juara. Tapi persaudaraan dan persahabatan antar bangsa jauh lebih punya nilai dan rasa hormat. Bagi para pemanah tradisional prestarsi tertinggi adalah memenangkan hati para pemanah dunia dari berbagai latar belakangnya.

Jika di setiap event internasional kehadiran seorang pemanah dinanti, dialah juara itu.

Berhasil merebut hati.

Sumber: Facebook Sunaryo Adhiatmoko