Kisah Lebaran di Kaki Gunung Gede Pangrango

Keluarga kecil kami semua pemanah. Suami, istri dan anak-anak. Ini awal yang cukup baik untuk menjadikan panahan tradisional sebagai instrumen mendidik karakter dan jati diri anak cucu agar tumbuh jadi generasi gemilang di masa depan. Bagaimana caranya? Suatu hari bolehlah kita gelar tikar dan berbincang bersama.

Lebaran tahun ini, kami coba kumpul keluarga kecil untuk kemah bersama tiga hari. Anak-anak sangat menikmati suasana dan tak mau diajak pulang. Hiburan paling istimewa tentu memanah. Maka kami gelar mini turnamen HEDEF dan Menzil. Meski hiburan, pertandingan kami lakukan sangat serius.

Hadiah spesial untuk keluarga Irvan Pani Mappaseng adalah saat Maminya Doel dan Aqila Dhanisa Restya Agung berhasil melesatkan nabl menzil dengan busur Şavhat Yay #38 mencapai jarak 260 meter. Sedangkan dengan busur sama Uminya Arsa Wening baru mencapai 216 meter.

Pada pagi harinya mini game Hedef antar group. Satu group 2 pemanah. Hadi Supriatna Sutan Bareno yang berpasangan dengan Arsa Wening harus sudden death dengan Chief Irvan yang berpasangan dengan sang istri. Hasilnya pasangan Irvan dan Dhanisa memenangkan kategori group.

Di hari terakhir penutupan, Hedef kategori individu jarak 60 meter. Uminya Azmiah Rusydina, Arsa Wening dan Arum, umi Ernita Susanti Sunaryo memenangkan kategori hedef 60 meter.

Pendatang baru keluarga pemanah yang cukup bagus pada hedef adalah kelurga Mba Fika Khanifa dan Mas Deden. Mereka mulai bisa memanah di jarak 40 dan 60 meter. Dan tamu spesial datang dari Lampung, mas Irvan Ipay Oktavian yang datang di hari terkahir bersama anak dan istri.

Peserta camp terkecil kami adalah calon pemanah hebat, Fillio putra Mas Hadi yang berumur 9 bulan.

Saya pikir, kita harus segera mengulang liburan yang spesial ini.

MIND - HEART - WISDOM

sumber: facebook Sunaryo Adhiatmoko

pangrango-01

pangrango-02